Bayangkan Anda adalah investor yang membeli obligasi pemerintah 10 tahun dengan yield 6.2% (harga pasar November 2025). Terasa nyaman, bukan? Namun, lima bulan kemudian, Bank Indonesia mengumumkan kenaikan suku bunga acuan, dan yield obligasi baru melesat menjadi 6.8%. Tiba-tiba, obligasi Anda yang lama kini bernilai lebih rendah—kerugian paper losses mencapai 10-15%.
Ini adalah dilema klasik yang dihadapi investor obligasi: trade-off antara mengejar yield tinggi dengan mengalami risiko suku bunga. Jika Anda membeli obligasi jangka panjang dengan yield tinggi (6.2%), risiko kehilangan value saat suku bunga naik besar. Sebaliknya, jika membeli obligasi jangka pendek yang lebih aman, yield-nya lebih rendah dan reinvestment risk membuat Anda kesulitan.
Namun ada solusi elegan yang mengatasi dilema ini: Strategi Laddering Obligasi.
Bond ladder strategy adalah pendekatan investasi di mana Anda membeli obligasi dengan tanggal jatuh tempo yang tersebar—misalnya 1 tahun, 2 tahun, 3 tahun, 4 tahun, dan 5 tahun. Hasilnya? Setiap tahun ada obligasi yang jatuh tempo, memberikan Anda opsi untuk reinvest pada yield terbaru, sambil tetap menikmati passive income stabil Rp2-10 juta per bulan tanpa overthinking tentang perubahan suku bunga.
Panduan komprehensif ini akan mengungkap cara mendapatkan income bulanan dari laddering obligasi, contoh konkret perhitungan, dan strategi praktis untuk memaksimalkan returns di tengah ketidakpastian pasar 2026. Mari kita eksplor!
Memahami Dasar Laddering dan Obligasi
Apa Itu Bond Ladder dan Mengapa Ini Game-Changer?
Laddering adalah strategi investasi obligasi di mana Anda membagi modal ke dalam beberapa transaksi obligasi dengan jatuh tempo berbeda.
Contoh sederhana: Alih-alih menempatkan Rp100 juta dalam satu obligasi 5 tahun, Anda membaginya menjadi:
-
Rp20 juta obligasi 1 tahun (yield ~5.0%)
-
Rp20 juta obligasi 2 tahun (yield ~5.3%)
-
Rp20 juta obligasi 3 tahun (yield ~5.6%)
-
Rp20 juta obligasi 4 tahun (yield ~5.9%)
-
Rp20 juta obligasi 5 tahun (yield ~6.2%)
Mengapa strategi ini revolutionary?
Pertama, Anda mengatasi interest rate risk. Ketika suku bunga naik, obligasi jangka panjang Anda yang ada tetap locked dalam yield lama—rugi sementara. Namun, obligasi 1-tahun Anda akan jatuh tempo dalam 12 bulan, dan Anda bisa reinvest pada yield yang lebih tinggi (mungkin 5.5% jika BI naik rate). Net effect: berkat ladder, Anda tidak fully exposed terhadap rising rate environment seperti investor yang membeli satu obligasi 5 tahun saja.
Kedua, Anda mendapat liquidity rutin. Setiap tahun ada uang masuk dari obligasi yang jatuh tempo. Ini bukan hanya cash flow yang useful, tapi juga opsi strategis—Anda bisa withdraw untuk kebutuhan, atau reinvest untuk lanjut income stream.
Ketiga, psikologi investasi lebih enak. Dengan ladder, Anda tidak overthink “apakah sekarang saatnya membeli obligasi?” karena struktur sudah planned. Investasi jadi systematic dan disciplined.
Obligasi 101 Bagaimana Obligasi Memberikan Income
Sebelum masuk strategi ladder, penting memahami cara obligasi memberikan passive income stabil.
Obligasi pada dasarnya adalah surat utang—ketika Anda membeli obligasi, Anda meminjamkan uang kepada pemerintah atau perusahaan. Sebagai balas jasa, Anda menerima:
1. Kupon (Bunga Berkala)
Pembayaran bunga rutin, biasanya setiap 6 bulan atau 1 tahun. Misalnya, obligasi Rp100 juta dengan kupon 6% memberi Rp6 juta per tahun (Rp500K per bulan jika bulanan).
2. Pokok (Principal) Saat Jatuh Tempo
Pada tanggal jatuh tempo, penerbitan obligasi mengembalikan 100% dari pokok investasi Anda.
Contoh konkret:
Anda beli obligasi pemerintah nominal Rp100 juta, kupon 6%, tenor 5 tahun:
-
Tahun 1-4: Terima Rp6 juta kupon per tahun (Rp500K/bulan)
-
Tahun 5: Terima Rp6 juta kupon + Rp100 juta pokok kembali
Total cash received dalam 5 tahun: Rp130 juta (dari investasi Rp100 juta)
Ini adalah essence dari cara dapat income Rp5 juta dari bulanan dengan menaruh modal yang cukup pada obligasi dengan kupon yang sesuai target income Anda.
Macam-Macam Obligasi untuk Laddering
Jenis Obligasi yang Cocok untuk Strategi Laddering 2026
Tidak semua obligasi cocok untuk laddering. Berikut adalah opsi terbaik:
1. Obligasi Pemerintah (SUN / Surat Utang Negara)
Karakteristik:
-
Issued oleh pemerintah Indonesia
-
Sangat aman (backed oleh negara)
-
Kupon bervariasi: 5-6.5% tergantung tenor
-
Tenor: 1 tahun hingga 30 tahun
-
Yield saat ini: 6.2% untuk 10 tahun
Keuntungan untuk laddering:
-
Risk terendah (essentially zero default risk)
-
Liquid—bisa dijual di pasar sekunder kalau urgent
-
Transparent pricing
Kekurangan:
-
Return moderate (tidak setinggi obligasi korporasi)
-
Perlu portfolio investment minimum
Best for: Conservative investor yang prioritas capital preservation
2. Obligasi Ritel Indonesia (ORI)
Karakteristik:
-
Special program dari pemerintah untuk retail investors
-
Minimum investment: Rp 1 juta
-
Kupon: ~6.05% (fixed)
-
Tenor: Biasanya 3 tahun
-
Pembayaran: Bulanan atau 6-bulanan
Keuntungan untuk laddering:
-
Akses mudah untuk investor retail (bisa via bank atau platform fintech)
-
Fixed kupon (predictable income)
-
Dapat dicicil
Kekurangan:
-
Tenor terbatas (tidak semua jangka waktu tersedia)
-
Kupon fixed—tidak naik meski suku bunga naik
Best for: Beginner yang ingin start small, retail investor
3. Sukuk (Obligasi Syariah)
Karakteristik:
-
Obligasi yang comply dengan prinsip syariah
-
Kupon: 5-6% (competitive dengan SUN)
-
Tenor: Macam-macam (1-30 tahun)
-
Pembayaran: Bulanan atau 6-bulanan
Keuntungan untuk laddering:
-
Return competitive
-
Liquid di market
-
Sesuai prinsip islami
Kekurangan:
-
Sedikit lebih niche (kurang familiar bagi investor umum)
Best for: Investor syariah atau yang ingin diversifikasi dengan sukuk
4. Obligasi Korporasi
Karakteristik:
-
Diterbitkan oleh perusahaan (not pemerintah)
-
Kupon: 6.5-9% (lebih tinggi dari pemerintah)
-
Tenor: Biasanya 5 atau 10 tahun
-
Risk: Medium-high (tergantung credit quality perusahaan)
Keuntungan untuk laddering:
-
Yield lebih tinggi
-
Lebih variasi pilihan
Kekurangan:
-
Risk default lebih tinggi (perusahaan bisa bangkrut)
-
Require research mendalam tentang kesehatan keuangan perusahaan
Best for: Experienced investor yang able tolerate credit risk
Rekomendasi untuk laddering 2026: Kombinasi SUN (80%) + ORI/Sukuk (20%) untuk balance antara safety dan accessibility.
Cara Membangun Bond Ladder Langkah Demi Langkah
Contoh Praktis Ladder dengan Modal Rp300 Juta
Mari kita gunakan contoh konkret untuk show strategi laddering obligasi untuk income bulanan.
Skenario: Anda punya modal Rp300 juta, target income bulanan minimal Rp2.5 juta, time horizon 5 tahun.
Langkah 1: Tentukan Struktur Ladder
| Tenor | Investasi | Yield (est.) | Kupon Tahunan | Jatuh Tempo |
|---|---|---|---|---|
| 1 tahun | Rp50 juta | 5.0% | Rp2.5 juta | Year 1 |
| 2 tahun | Rp75 juta | 5.3% | Rp3.975 juta | Year 2 |
| 3 tahun | Rp75 juta | 5.6% | Rp4.2 juta | Year 3 |
| 4 tahun | Rp50 juta | 5.9% | Rp2.95 juta | Year 4 |
| 5 tahun | Rp50 juta | 6.2% | Rp3.1 juta | Year 5 |
| TOTAL | Rp300 juta | 5.6% avg | Rp16.75 juta/tahun | — |
2: Execute Pembelian
-
Bulan 1: Beli Rp50 juta obligasi 1 tahun
-
Bulan 2: Beli Rp75 juta obligasi 2 tahun
-
Bulan 3: Beli Rp75 juta obligasi 3 tahun
-
Bulan 4: Beli Rp50 juta obligasi 4 tahun
-
Bulan 5: Beli Rp50 juta obligasi 5 tahun
Mengapa spread over 5 bulan? Untuk optimal dollar cost averaging Anda tidak buy semuanya dalam market yang mungkin sedang naik. Spread buying mitigates timing risk.
3: Year 1 – Reinvestment
Setelah 12 bulan, obligasi 1-tahun jatuh tempo. Anda terima Rp50 juta pokok + Rp2.5 juta kupon Year 1 = Rp52.5 juta total.
Option A: Withdraw (jika butuh cash)
Option B: Reinvest ke obligasi 5-tahun baru dengan yield terbaru (assume still 6.2%)
Jika pilih reinvest, sekarang ladder Anda jadi:
-
1 tahun: Rp75 juta (dari Year 2 obligation)
-
2 tahun: Rp75 juta (dari Year 3 obligation)
-
3 tahun: Rp50 juta (dari Year 4 obligation)
-
4 tahun: Rp50 juta (dari Year 5 obligation)
-
5 tahun: Rp52.5 juta (reinvestasi dari Year 1 proceeds)
Power of reinvestment: Dengan reinvestasi konsisten, capital Anda terus tumbuh sambil tetap generate income. Over 20 tahun, effect-nya exponential.
4: Monitor dan Adjust
Setiap tahun:
-
Check obligasi apa yang jatuh tempo
-
Evaluate apakah reinvest atau withdraw
-
Monitor suku bunga market—apakah risen naik atau turun?
-
Rebalance jika diperlukan untuk maintain ladder structure
Contoh Ladder Level Lanjutan: Rp600 Juta untuk Rp5 Juta/Bulan
Untuk investor dengan capital lebih besar, berikut contoh ladder yang generate income bulanan Rp5 juta (Rp60 juta/tahun):
| Tenor | Investasi | Yield | Annual Coupon | Jatuh Tempo |
|---|---|---|---|---|
| 1 tahun | Rp100M | 5.0% | Rp5 juta | Month 12 |
| 2 tahun | Rp100M | 5.3% | Rp5.3 juta | Month 24 |
| 3 tahun | Rp100M | 5.6% | Rp5.6 juta | Month 36 |
| 4 tahun | Rp100M | 5.9% | Rp5.9 juta | Month 48 |
| 5 tahun | Rp100M | 6.2% | Rp6.2 juta | Month 60 |
| 6 tahun | Rp100M | 6.4% | Rp6.4 juta | Month 72 |
| TOTAL | Rp600M | 5.7% avg | Rp34.4M/tahun | — |
Dengan reinvestasi konsisten dan compound effect, setelah 10 tahun, capital bisa tumbuh menjadi ~Rp750-800 juta sambil earning Rp60M/tahun income.
Mengapa Laddering Mengatasi Interest Rate Risk
Masalah Suku Bunga Naik, Obligasi Lama Rugi
Sini kita telisik masalah fundamental yang dihadapi investor obligasi traditional.
Suppose Anda adalah investor conservative yang membeli obligasi pemerintah 10 tahun dengan yield 6.0% (harga Rp100 juta). Kabar bagus, Anda lock dalam return 6% selama 10 tahun. Kabar buruk 6 bulan kemudian, BI menaikkan suku bunga acuan, dan 10 tahun baru offered dengan yield 6.8%.
Apa yang terjadi pada obligasi Anda yang yield 6.0%?
Karena yield baru lebih tinggi (6.8%), obligasi lama yang yield 6.0% menjadi kurang attractive. Jika Anda ingin jual di market, pembeli akan offer discount karena mereka bisa dapat 6.8% elsewhere. Harga Anda turun mungkin 8-12% dari Rp100 juta ke Rp88-92 juta (paper loss).
Ini adalah interest rate risk ketika Anda locked dalam lower yield sambil market offer higher yield.
Solusi Laddering Memaksa Reinvestment pada Higher Rates
Dengan laddering, problem ini di-mitigate dramatically. Berikut why:
Scenario 1: Buy & Hold Satu Obligasi 5 Tahun
-
Beli obligasi 5 tahun yield 6.0% (Rp100 juta)
-
Setelah 6 bulan, suku bunga naik—yield baru 6.8%
-
Obligasi Anda value turun 10-12% (jika mau jual)
-
4.5 tahun ke depan, tetap earn 6.0% (locked, tidak bisa upgrade)
-
Total return over 5 tahun: 6.0% (stuck)
Scenario 2: Ladder dengan 5 Tenor (1-5 tahun)
-
Beli ladder: Rp20M each tahun untuk tenor 1-5
-
Setelah 6 bulan, suku bunga naik
-
Dalam 12 bulan, obligasi 1-tahun jatuh tempo—Anda reinvest pada yield 6.8% (higher!)
-
2 tahun, obligasi 2-tahun jatuh tempo—reinvest di 6.8%
-
Net effect: Anda gradually upgrade yield dari 6.0% to 6.8% seiring bonds mature
-
Average total return over 5 tahun: 6.3-6.4% (upgraded gradually)
The magic: Laddering forces you reinvest jatuh tempo bonds pada market rate terbaru. Jika rate naik (baik untuk investor), Anda reinvest higher. Jika rate turun, existing ladder tetap locked pada higher rate dari masa lalu.
Ini adalah cara menghindari interest rate risk obligasi dengan struktur yang elegan.
Income Calculation dan Strategi Optimization
Menghitung Passive Income Bulanan dari Ladder
Mari kita hitung berapa exactly income bulanan yang bisa Anda dapatkan dari ladder.
Formula sederhana:
Monthly Income = (Total Invested × Average Yield) ÷ 12
Contoh dengan Rp300 juta ladder:
-
Total invested: Rp300 juta
-
Average yield: 5.6%
-
Monthly income: (Rp300M × 5.6%) ÷ 12 = Rp1.4 juta/bulan
Plus, setiap tahun saat maturity, Anda dapat lumpsum dari obligasi yang jatuh tempo. Jika Anda reinvest, effective income terus naik over time karena compound.
| Capital | Avg Yield | Monthly Income | Annual Income |
|---|---|---|---|
| Rp100M | 5.4% | Rp450K | Rp5.4M |
| Rp300M | 5.6% | Rp1.4M | Rp16.8M |
| Rp600M | 5.7% | Rp2.85M | Rp34.2M |
| Rp1B | 5.8% | Rp4.83M | Rp58M |
Insight penting: Untuk achieve target income Rp2-10 juta/bulan, Anda butuh:
-
Rp2M/month → minimal Rp350M capital
-
Rp5M/month → minimal Rp900M capital
-
Rp10M/month → minimal Rp1.8B capital
Tapi ini hanya dari kupon bulanan. Plus reinvest proceeds, effective yield bisa naik 0.2-0.3% per tahun secara gradual.
Strategi Optimization: Kurasi Mix Obligasi
Untuk maximize income sambil manage risiko, optimal allocation adalah:
| Kategori | Allocation | Rationale |
|---|---|---|
| SUN/Government | 70% | Safety + liquidity |
| ORI/Sukuk Ritel | 15% | Ease of access + intermediate |
| Obligasi Korporasi Grade A | 10% | Higher yield |
| Fixed Deposits | 5% | Extra safety buffer |
Contoh dengan Rp600 juta:
-
Rp420M SUN (70%)
-
Rp90M ORI (15%)
-
Rp60M Korporasi (10%)
-
Rp30M Fixed Deposit (5%)
Blended average yield: ~5.8% (vs 5.7% all SUN)
Extra income dari optimization: ~Rp35K/month
Ini terlihat kecil, tapi over 20 tahun, Rp35K/month × 12 × 20 = Rp8.4 juta extra income just dari reallocation!
Kesalahan Umum dan Risk Management
#1: Buying All Bonds at Same Time
Mistake: Investor punya Rp600 juta dan immediately buy semua ladder dalam 1-2 hari.
Problem: Jika market sedang di peak yield (rendah), Anda lock dalam low yield semuanya sekaligus. 3 bulan kemudian yield naik dan Anda frustrated.
Solution: Dollar Cost Averaging untuk Bond Purchases
-
Spread pembelian selama 3-6 bulan
-
Setiap bulan beli tranch baru
-
Average out entry price/yield
#2: Not Reinvesting at Maturity
Mistake: Obligasi jatuh tempo, Anda terima uang, tapi procrastinate dan lupa reinvest untuk “mencari best rate.” Dana hang out di rekening tabungan.
Problem: Uang tidak working. Kehilangan income stream. Ladder structure breakdown.
Solution: Auto-Reinvestment atau Calendar Reminder
-
Set kalender 1 bulan sebelum maturity untuk remind reinvestment
-
Buat automatic instruction dengan bank (jika tersedia)
-
Atau, track spreadsheet dengan all maturity dates
#3: Chasing Yield – Invest di Obligasi High-Risk
Mistake: Melihat obligasi korporasi yang yield 9% (vs SUN 6%), langsung all-in.
Problem: Obligasi riskier. Jika perusahaan financial distress, default risk. Anda bisa lose 50-100% dari investasi.
Solution: Risk-Weighted Allocation
-
Core 80% SUN (safety)
-
Satellite 20% higher-yield produk (untuk boost return)
-
Research carefully sebelum invest high-yield
Managing Interest Rate Risk saat Jual Obligasi
Scenario: Anda punya obligasi, tapi unexpected expense butuh cash. Harus jual sebelum maturity.
Risk: Jika suku bunga naik sejak purchase, obligasi value turun.
Mitigation:
-
Liquid assets untuk emergency (jangan 100% locked di obligasi)
-
Atau, jual short-dated bonds (yang akan mature soon) daripada long-dated
-
Spread jatuh tempo—dengan ladder, paling lama 1 tahun ada yang mature
Contoh: Anda punya:
-
1 tahun bond (jatuh tempo 6 bulan) → jual ini daripada
-
5 tahun bond (jatuh tempo 4.5 tahun lagi) → karena loss lebih besar jika jual
7 Poin-Poin Penting
1. Laddering mengatasi interest rate risk dengan force reinvestment pada market rate terbaru
Jika suku bunga naik, Anda gradually upgrade yield. Jika turun, existing ladder tetap lock higher rate. Win-win setup.
2. Income bulanan dari ladder adalah predictable dan stable
Dengan Rp300-600M modal, dapat income Rp1.4-2.8M/bulan dari kupon, plus lumpsum setiap tahun saat jatuh tempo.
3. SUN (Government Bonds) adalah core—70-80% allocation
Paling safe, liquid, transparent pricing. ORI/Sukuk 15-20% untuk accessibility.
4. Dollar cost averaging untuk purchases—spread over 3-6 bulan
Mitigates timing risk. Optimize entry yield.
5. Reinvest at maturity—critical untuk maintain compound effect
Jangan procrastinate. Set calendar reminders atau auto-reinvestment instructions.
6. Diversifikasi tenor adalah key
Dengan spread maturities 1-5 tahun, always ada yang mature. Liquidity + income both optimized.
7. Obligasi korporasi hanya 10-20% allocation jika at all
Higher yield tapi credit risk. Core portfolio harus SUN.
Kesimpulan dan Call-to-Action
Dalam lanskap ekonomi yang uncertain di 2026, dengan kemungkinan fluktuasi suku bunga, strategi laddering obligasi menawarkan elegant solution untuk generate passive income stabil tanpa perlu time-consuming trading.
Bayangkan scenario ini: Anda punya Rp600 juta (bukan uang crazy, bisa dari inheritance, bonus besar, atau accumulated savings). Dengan laddering:
-
Bulan 1-3: Setup ladder—beli tenor 1-6 tahun
-
Bulan 1-240 (20 tahun): Terima Rp2.8-4 juta income bulanan automatically
-
After 20 years: Capital masih Rp600M+ (dari reinvestment), plus Rp1B+ dari accumulated coupons
This is passive income on steroids—consistent, boring, but damn effective.
Strategi ini tidak glamorous seperti stock picking atau crypto moonshot. Tidak ada FOMO factor. Tidak ada excitement dari watching portfolio swing 20% daily. Tapi itulah yang makes it work untuk 99% orang yang ingin financial security dan steady income.
Pertama: Assess capital Anda. Jika punya Rp300M+, laddering adalah no-brainer. Jika < Rp300M, mulai dengan 3 tenor ladder (1, 3, 5 tahun) untuk lower capital requirement.
Kedua: Open investment account di bank atau fintech (Bibit, Pluang, atau bank langsung) yang facilitate trading.
Ketiga: Beli pertama bulan depan. Spread purchases selama 3-6 bulan. Don’t overthink timing—dengan dollar cost averaging, timing lebih forgiving.
Keempat: Setup calendar reminders untuk reinvestment saat jatuh tempo. Atau, negotiate auto-reinvestment instruction dengan bank.
Done. Sekarang Anda punya “cash machine” yang generate income konsisten selama 20-30 tahun.
Passive income bukan mimpi—ini adalah hasil dari strategic planning dan disciplined execution.
FAQ – Pertanyaan Umum tentang Bond Ladder
Q1: Apakah obligasi dijamin aman? Bisa default?
A: Obligasi pemerintah (SUN) essentially zero default risk—backed oleh negara. ORI juga aman (pemerintah guarantee). Obligasi korporasi ada risiko, but high-grade corporate bonds dari companies seperti Telkom, Pertamina relative safe.
Tapi jangan semua portofolio dalam obligasi korporasi. Mix 80% pemerintah, 20% korporasi adalah reasonable.
Q2: Berapa minimum modal untuk start laddering?
A: Technically, bisa start dengan Rp100 juta (beli 5 tenor × Rp20M each). Tapi untuk generate meaningful income (Rp2-3M/month), realistic minimum Rp300M.
Kalau < Rp300M, better strategy adalah accumulate via micro-investing (Rp10K/hari), then scale ke laddering ketika hit Rp300M+.
Q3: Jika suku bunga turun, apakah rugi?
A: Sebaliknya—Anda untung! Jika BI cut rate dari 5% ke 4.5%, obligasi Anda yang yield 5-6% menjadi premium. Value naik. Plus, existing ladder tetap lock higher yield.
Market optimism saat rate cut also biasanya buat bond prices appreciates.
Q4: Apakah bisa withdraw sebelum jatuh tempo?
A: Yes, bisa dijual di market sekunder. Tapi harga depend suku bunga market saat itu. Jika rate naik sejak purchase, harga bisa turun. Jadi ideally, hold sampai maturity untuk get predictable return.
Ini why liquidity buffer important—cash emergency di savings, bukan obligasi.
Q5: Aplikasi atau platform mana untuk membeli obligasi?
A: Bank tradisional (BCA, Mandiri, BRI semua bisa). Platform fintech (Bibit, Pluang, Bareksa). Recommendation: Bank untuk SUN (more stable), Fintech untuk ORI (easier access).